-Essay Project Little Sun Secondary

KARHUTLA (Kebakaran Hutan dan Lahan)

Secara umum, hutan berfungsi sebagai peru-paru bumi, sumber ekonomi, sumber makanan, pengendali bencana, serta habitat flora dan fauna. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ragam budaya, Bahasa, dan keanekaragaman hayati. Indonesia masuk 10 negara di negara dengan penghasil oksigen terbanyak.


Baru-baru ini, berita tentang kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia sedang memanas. Pemerintah sedang menyelidiki tentang terjadinya peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang sedang terjadi. Banyak perusahaan industri yang disangka telah menyebabkan kebakaran tersebut. Tetapi kebakaran ini juga tidak lepas dari para spekulan. Spekulan adalah orang yang ingin membakar hutan namun terjadinya kebakaran tidak dilakukan oleh orang tersebut. Biasanya spekulan ini akan menyuap rakyat kecil menggunakan uang dengan jumlah yang sangat besar untuk membakar hutan. Rakyat tersebut tidak diperbolehkan untuk menyangkutkan nama spekulan tersebut walaupun mereka memiliki risiko untuk masuk penjara.


Menurut kompas.com, sejak awal tahun hingga akhir bulan September 2019, tercatat Kawasan hutan serta APL (Areal Penggunaan Lain) dengan luas kurang lebih 309 hektar di Sumatera Barat telah habis dilahap si merah. Jumlah hutan yang telah terbakar di Sumatera Barat sangat jauh dibandingkan provinsi lainnya seperti Riau, Sumatera Selatan, Jambi, dll. (kompas.com) Asap yang dikeluarkan akibat kebakaran hutan dan lahan ini telah membuat kondisi udara di Sumatera Barat berada di level yang membahayakan (kompas.com). berdasarkan data yang diberikan oleh aplikasi pendeteksi kebakaran hutan, Yozawardi S.Hut,M menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan terbesar pada saat ini berada di Riau. Pada bulan oktober 2019 kebakaran ini telah menyebar semakin luas, kebakaran tersebut telah mencapai hingga 409 hektar.


Ada 6 provinsi di Indonesia yang daerah dengan kebakaran hutan paling parah yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat ,dan Kalimantan Selatan.

Asap yang dikeluarkan oleh kebakaran hutan dan lahan tersebut telah membuat kondisi udara di Sumatera Barat berada di tingkat yang cukup membahayakan. Banyak warga di sekitar Kawasan kebakaran hutan terkena dampak dari asapnya. Asap ini menyebabkan banyak warga sekitar terkena penyakit seperti sakit tenggorokan, mata terasa pedas,iritasi kulit, badan tidak enak, ISPA, dan sebagainya. Pelaksana harian kepala dinas kesehatan Riau, Yohanes, mengatakan bahwa sejak akhir Agustus lalu Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayahnya sedang naik-turun dan berkisar diantara 400 hingga 500. Angka ini sudah termasuk dalam kategori yang tidak sehat. Masyarakat terpaksa untuk menutup fentilasi udara rumahnya dengan karton atau plastik agar asap tidak masuk kedalam rumah.


Ada sekitar sebelas hingga dua belas ribu pasien yang sudah dating ke puskesmas terdekat untuk mencari bantuan medis. Mayoritas dari mereka mengidap gejala infeksi saluran pernapasan atas yaitu yang sering disebut dengan ISPA. Oleh karena itu, maka bapak Yohanes serta semua rekannya membagikan setidaknya 1.5 juta masker hijau ke masyarakat. Akan tetapi, sirkulasi udara yang ada pada masker hijau tidak cocok untuk situasi dan keaadan yang seperti ini. Maka, tidak heran apabila masker ini yang digunakan untuk selama lima sampai sepuluh menit akan terasa sesak. Dia juga menegaskan bahwa semua biaya pengobatan masyarakat akan ditanggung oleh pemerintah.

(BBC NEWS.com)


Ada seorang reporter yang telah mewawancarai warga Palangkaraya yang salah satunya bernama Lilis Alice. Lilis Alice bercerita bahwa, ia harus menutup semua ventilasi udara rumahnya dengan karton dari awal bulan September lalu karena asap yang sudah tidak lagi dapat dibendung. Dia mengatakan bahwa lantai rumahnya berubah menjadi licin dari biasanya dan agak berminyak. Lalu korden jendela pun yang dulunya berwarnah putih sekarang telah berubah menjadi agak kecoklatan. Ia hanya dapat mengandalkan kipas angin agar udara di rumahnya tidak terasa pengap. “ Sudah 2 minggu saya tidak membuka jendela dan pintu rumah saya. Namun asap ini tetap dapat masuk ke dalam rumah,” katanya dengan kesal ketika dihubungi oleh BBC News Indonesia, minggu (15/9). “ Kalau pagi, seakan-akan tinggal dalam negeri di dalam awan, gelap-gelapan. Jadi kalau sedang di dalam rumah saya nyalakan lampu, karena sangking gelapnya.” Sambungnya.


Untuk memadamkan kebakaran itu pemerintah sudah mengupayakan berbagai macam upaya untuk memadamkan api. Bebrapa di antaranya adalah kepolisian mengirimkan 5 ribu personel, sementara BNPB (Badan Nasional Penanggung Bencana) juga telah mengarahkan 32 unit helipkopter yang memiliki perlengkapan untuk aktivitas pemadaman api. Perlengkapan tersebut berupa water bombing dan selang air. BNPB juga sudah menerbangkan 10 unit helipkopter patrol yang difungsikan sebagai pengawasan daerah-daerah sekitar lokasi kebakaran. Walaupun mereka sudah mengupayakan begitu banyak usaha, usaha yang mereka keluarkan belum cukup.


Usaha-usaha yang telah diupayakan oleh pemerintah memang tidak dapat memadamkan apinya secara total, namun setidaknya usaha mereka ini dapat mencegah penyebaran apinya, jangan sampai apinya merembet kemana-mana. Jadi kebakaran ini akan dapat dikurangi. Selain itu, ada juga pesawat Hercules milik TNI yang digunakan untuk penyemaian hutan buatan. Namun demikian, pemerintah belum meminta pertolongan serta bantuan dari negara-negara lain juru bicara KLHK, Jati Witjaksono, mengatakan bahwa pemerintah tidak meminta bantuan dari negara-negara lain dikarenakan untuk menjaga harga dan martabat negara.


Berdasarkan catatan yang dibuat oleh KLHK, saat ini ada sekitar 42 perusahaan yang telah disegel konsesinya untuk diteliti serta diselidiki. Mereka telah diduga telah terkait dengan kebakaran hutan dan lahan yang sedang terjadi pada tahun 2019 ini. Diantara perusahaan-perusahaan itu, ada sekitar 5 perusahaan asing yang dimiliki oleh negara Singapura dan Malaysia. Menurut Jati, asap yang dikeluarkan oleh karhutla ini tidak hanya berasal dari Indonesia tetapi juga dari Malaysia, kendati diakuinya tidak sebanyak dan sebesar di Indonesia.


Pemerintah Indonesia harus melakukan tindakan tegas terhadap seluruh pihak yang bertanggungjawab atas insiden terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang telah terjadi. Tindakan tersebut dapat berupa hukuman yang sesuai dengan undang-undang KUHP yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, kebakaran hutan dapat dikandalikan dan masyarakatpun dapat hidup dengan kualitas udara yang lebih baik lagi.


Oleh Sellyna Atmaja X IPS

126 views

Contact Us:

Playgroup and Kindergarten
0821 3901 3390
Lower Secondary
0896 2991 2516
Primary
0813 8236 9177
Upper Secondary
0812 1769 2590
Jalan Manyar Kartika 48, 60118, Surabaya
  • facebook-logo-button-01
  • instagram-01
  • youtube-01

Littlesun

littlesunschool

Little Sun School